ULEZ London: yang layak ditiru bukan zonanya, melainkan urutannya
Zona rendah emisi London adalah contoh yang paling sering dikutip ketika kota Indonesia membahas pembatasan kendaraan berpolusi. Bagian yang paling mudah disalin — peta zonanya — justru bagian yang paling sedikit menjelaskan kenapa ia berhasil.
Setiap kali pembatasan kendaraan berpolusi dibahas di Indonesia, London
muncul sebagai rujukan. Yang biasanya ikut terbawa adalah gambar petanya:
sebuah lingkaran di atas kota, dengan keterangan bahwa kendaraan di bawah
standar tertentu harus membayar untuk masuk.
Peta itu bagian yang paling mudah disalin dan paling sedikit menjelaskan.
Dua instrumen, dua sasaran yang berbeda
London menjalankan dua kebijakan berbeda pada kawasan yang sebagian
bertumpang tindih, dan keduanya kerap tertukar.
Jalan berbayar — Congestion Charge, berlaku
sejak 2003 — menyasar volume. Ia mengenakan biaya kepada siapa pun yang
membawa kendaraan ke kawasan pusat pada jam tertentu, tidak peduli
kendaraannya sebersih apa. Tujuannya mengurangi jumlah kendaraan.
Zona rendah emisi —
ULEZ, berlaku sejak 2019 — menyasar mutu kendaraan. Kendaraan yang
memenuhi standar emisi boleh masuk tanpa biaya berapa pun banyaknya; yang
tidak memenuhi harus membayar. Tujuannya mempercepat pergantian armada di
kawasan tempat paparan penduduk paling tinggi.
Perbedaan ini bukan soal istilah. Kota yang memberlakukan ULEZ berharap
kemacetannya berkurang akan kecewa: kalau seluruh armada memenuhi standar,
jumlah kendaraan yang masuk tidak berubah sama sekali. Sebaliknya, kota yang
memberlakukan jalan berbayar berharap udaranya membaik dengan cepat juga akan
kecewa, karena kendaraan yang tersisa bisa saja justru yang paling berpolusi.
Urutannya yang menjelaskan, bukan zonanya
Pembagian moda London
Travel in London 2024 (TfL). Perhatikan porsi angkutan umum dan transportasi aktif digabung.
Ini yang jarang ikut tersalin. Ketika Congestion Charge diberlakukan pada
2003, jaringan angkutan umum London sudah padat dan sudah bisa diandalkan.
Orang yang memutuskan berhenti membawa mobil punya tujuan yang jelas untuk
dipindahi.
Urutan itu menentukan segalanya. Instrumen harga tidak menciptakan alternatif;
ia hanya membuat pilihan yang sudah ada jadi lebih menarik. Kota yang
memberlakukan pembatasan sebelum alternatifnya siap menanggung seluruh biaya
politiknya tanpa memperoleh manfaat perpindahan modanya — orang tetap
membawa kendaraan dan membayar, atau berhenti bepergian sama sekali. Keduanya
bukan hasil yang diinginkan.
Hal kedua yang sering hilang dalam penyalinan: penerimaan dari Congestion
Charge diarahkan kembali ke angkutan umum, dan hal itu terlihat. Kebijakan
yang hasilnya kembali dalam bentuk layanan dibaca sebagai investasi;
kebijakan yang hasilnya masuk ke kas umum dibaca sebagai pungutan. Rancangan
teknisnya bisa identik, penerimaannya tidak.
Perluasan adalah bagian tersulitnya
Kronologi ULEZ menurut TfL: berlaku di pusat kota pada 2019, diperluas ke
London bagian dalam pada 2021, lalu ke seluruh borough pada 2023.
Perluasan terakhir menghadapi penolakan politik yang serius. Ini pelajaran
yang paling tidak nyaman dan paling berguna: keberhasilan tahap pertama tidak
menjamin keberterimaan tahap berikutnya. Kawasan pusat kota dihuni relatif
sedikit orang dan dilayani angkutan umum paling rapat, sehingga zona pertama
menyentuh sedikit pemilik kendaraan yang punya banyak pilihan. Perluasan ke
pinggiran membalik keduanya sekaligus — lebih banyak orang terdampak, dengan
lebih sedikit alternatif.
Konsekuensinya untuk perancang kebijakan: masa transisi dan skema bantuan bagi
pemilik kendaraan lama berpendapatan rendah bukan pelengkap yang bisa
ditambahkan belakangan kalau anggarannya cukup. Ia bagian dari kelayakan
politik kebijakannya sejak awal.
Yang belum bisa kami katakan
Artikel ini tidak memuat satu pun angka tentang ULEZ, dan itu disengaja.
Tingkat kepatuhan armada, perubahan konsentrasi NO2 di dalam zona, jumlah
kendaraan terdampak, dan besaran skema bantuan penggantian kendaraan — semua
ada di publikasi TfL dan Greater London Authority, tetapi belum kami telusuri
sampai dokumen sumbernya. Sampai itu dilakukan, angkanya tidak diterbitkan di
sini. Alasannya dijelaskan di halaman metodologi, dan
konsekuensinya untuk delapan kota di situs ini diuraikan di
tulisan terpisah.
Untuk kota di Indonesia
Pertanyaan yang paling menentukan bukan di mana garis zonanya ditarik,
melainkan apa yang tersedia bagi orang yang tidak lagi boleh masuk membawa
kendaraannya.
Dan di sini ada perbedaan struktural yang tidak dihadapi London. Armada yang
paling banyak masuk kawasan padat kota Indonesia adalah sepeda motor, bukan
mobil — selisihnya dengan Bogota dibahas terpisah. Zona rendah emisi yang dirancang
untuk armada mobil menghasilkan efek yang sangat berbeda ketika diterapkan
pada armada yang didominasi motor: biaya penggantian per kendaraan jauh lebih
kecil, jumlah pemiliknya jauh lebih banyak, dan sebagian besar dari mereka
tidak punya alternatif yang setara dalam hal biaya maupun waktu tempuh.
Itu bukan alasan untuk tidak mencoba. Itu alasan untuk tidak menyalin
petanya.