Selisih 45,8 poin antara Oslo dan Jakarta, dan kenapa angkanya tidak bisa disalin
Empat kota dengan pembagian moda yang tertelusur ke dokumen sumbernya menunjukkan rentang yang sangat lebar. Yang menarik bukan jaraknya, melainkan alasan kenapa rekomendasi dari ujung atas tidak bisa dipindahkan apa adanya ke ujung bawah.
Pangsa perjalanan yang memakai moda berkelanjutan — jalan kaki, sepeda, dan
angkutan umum — adalah satu-satunya indikator di situs ini yang sudah
tertelusur ke dokumen sumbernya untuk lebih dari satu kota. Empat kota punya
angkanya, dan rentang di antara mereka lebar sekali.
Ujung atas
Pembagian moda Oslo
Sumber tidak melaporkan sepeda motor sebagai kategori tersendiri. Segmennya tidak ada, bukan bernilai nol.
Oslo mencapainya lewat pilihan yang tegas dan bertahap: ruang parkir di pusat
kota dikurangi terus-menerus, dan ruang itu dialihkan ke pejalan kaki dan
sepeda. Perlu dicatat kotanya jauh lebih kecil daripada tiga kota lain di
bawah, dan perbedaan skala itu membatasi seberapa jauh perbandingannya bisa
ditarik.
Pembagian moda Bogota
Kota berpendapatan menengah yang memilih BRT karena jaringan rel dinilai tidak terjangkau.
Bogota adalah pembanding yang paling dekat konteksnya dengan kota besar
Indonesia. Ia mencapai angka hampir setara Oslo dengan cara yang sepenuhnya
berbeda: BRT berkapasitas tinggi sebagai tulang punggung, bukan jaringan rel.
Ujung bawah
Pembagian moda Jakarta
Survei ini menggolongkan ojek sebagai angkutan umum meskipun kendaraannya sepeda motor.
Selisihnya dengan Oslo 45,8 poin. Tetapi angka itu bukan bagian paling penting
dari grafik di atas.
Batang abu-abu itu
Yang membedakan Jakarta dari ketiga kota lain bukan rendahnya pangsa
berkelanjutan, melainkan apa yang mengisi sisanya. Sepeda motor menguasai
mayoritas perjalanan — proporsi yang tidak punya padanan di London maupun Oslo,
dan jauh di atas Bogota.
Itu bukan sekadar detail statistik. Ia mengubah kebijakan mana yang masuk akal.
Sepeda motor murah, fleksibel, dan mengisi celah yang ditinggalkan angkutan
umum yang tidak andal. Ia adalah jawaban rasional bagi jutaan rumah tangga,
sekaligus pesaing terberat bagi setiap sistem angkutan massal yang dibangun
sesudahnya — pesaing yang tidak dihadapi London ketika memberlakukan jalan
berbayar, dan tidak dihadapi Oslo ketika menghapus parkir pusat kota.
Pembagian moda London
Cakupannya Greater London, kawasan luas yang mencampur pusat kota padat dengan pinggiran yang lebih bergantung mobil.
London menempati posisi menarik: pangsa berkelanjutannya tinggi, tetapi mobil
pribadi masih menguasai bagian terbesar tunggal. Angka tunggal untuk wilayah
seluas itu menyembunyikan perbedaan besar antar-bagian kotanya.
Empat peringatan sebelum angka ini dikutip
Perbandingan ini berguna, tetapi hanya kalau batasnya ikut dibawa.
Tahunnya berbeda. Survei Jakarta paling lama di antara keempatnya. Sejak
survei itu dilakukan, MRT mulai beroperasi dan integrasi antar-layanan
diperluas, sehingga gambaran hari ini kemungkinan sudah bergeser. Tanpa survei
pembanding yang setara metodenya, besar pergeserannya tidak bisa diklaim.
Taksonomi modanya berbeda. Survei Jakarta melaporkan jalan kaki, sepeda,
dan becak sebagai satu kategori yang tidak dapat dipisahkan, dan menggolongkan
ojek sebagai angkutan umum meskipun kendaraannya sepeda motor. Keputusan
penggolongan itu sendiri menggeser angkanya.
Cakupan wilayahnya berbeda. Sebagian angka mencakup kawasan metropolitan
luas, sebagian hanya kota inti. Batas administratif jarang berimpit dengan
batas kawasan tempat orang benar-benar bepergian.
Yang tidak diukur bukan berarti nol. Grafik Oslo tidak punya segmen sepeda
motor karena sumbernya tidak melaporkannya sebagai kategori tersendiri, bukan
karena tidak ada sepeda motor di Oslo. Situs ini menggambarkannya sebagai
segmen yang hilang, bukan batang kosong, tepat supaya perbedaan itu tidak
terbaca terbalik.
Yang seharusnya jadi kesimpulan
Kesimpulan yang salah dari grafik-grafik di atas adalah menyalin daftar
kebijakan kota berperingkat teratas. Kesimpulan yang benar lebih membosankan:
empat kota Indonesia lain di situs ini belum punya angka sama sekali.
Bandung, Surabaya, Semarang, dan Singapura ditampilkan tanpa pembagian moda
karena surveinya belum berhasil ditelusuri ke dokumen sumbernya. Selama garis
dasarnya belum ada, keberhasilan kebijakan transportasi di kota-kota itu tidak
bisa dibuktikan maupun dibantah — dan perdebatan tentang apa yang berhasil
berubah menjadi perdebatan tentang siapa yang lebih meyakinkan.
Mengumpulkan angka awal yang dapat diperiksa adalah pekerjaan yang jauh kurang
menarik daripada merancang koridor baru. Ia juga syarat sebelum apa pun yang
lain bisa dinilai.