Bus Rapid Transit (BRT)
Bus Rapid Transit, atau BRT, adalah layanan bus yang meminjam ciri angkutan rel: jalur terpisah, halte dengan peron sejajar lantai bus, pembayaran sebelum naik, dan prioritas di persimpangan. Yang membuatnya berbeda dari bus biasa bukan kendaraannya, melainkan hak jalan yang dimilikinya.
Mekanisme kerja
Kapasitas BRT ditentukan oleh seberapa cepat penumpang bisa naik dan seberapa jarang bus terhambat. Pembayaran di halte menghilangkan antrean di pintu; peron sejajar lantai bus menghapus tangga; jalur terpisah menjaga waktu tempuh tetap dapat diprediksi meski jalan di sebelahnya macet. Ketiganya saling bergantung — melepas satu saja menurunkan seluruh sistem mendekati bus biasa. Inilah sebab paling umum kekecewaan terhadap proyek BRT: koridor dibangun, tetapi jalurnya tidak steril, sehingga keandalan yang menjadi alasan utama orang berpindah tidak pernah tercapai. BRT juga menuntut layanan pengumpan dan akses pejalan kaki yang baik, karena koridor tunggal hanya melayani orang yang kebetulan tinggal di sepanjangnya.
Cara mengukur
- Kecepatan rata-rata dan keandalan waktu tempuh koridor pada jam sibuk.
- Penumpang per jam per arah pada ruas tersibuk.
- Proporsi penumpang yang berpindah dari kendaraan pribadi, bukan dari angkutan umum lain.
Tantangan implementasi
- 01Menjaga jalur tetap steril menuntut penegakan terus-menerus, bukan hanya pembangunan fisik.
- 02Mengambil lajur dari lalu lintas umum secara politik mahal di awal.
- 03Tanpa layanan pengumpan, jangkauan koridor terbatas pada penghuni di sepanjang jalurnya.